Langsung ke konten utama

Rindu Orek Tempe



RINDU

#Orek_Tempe


Merpati putih sampaikan segenap rindu yang katanya kian berkembang. Kusambut pesan itu dengan binar berpendaran. Binar yang seketika layu jika ragaku nanti telah bangun.


Anganku terbujuk godaan, menginginkan bercumbu mesra dengan seseorang. Seorang yang tak kutahu sebabnya hingga aku merasa kehilangan. Kehilangan sajian kenangan orek tempe hingga tak patut bersanding dengan rendang.


Ayal, bimbang kucoba menyingkap tirai pemisah kenangan. Dengan hasil yang menjadikanku tenggelam semakin dalam kepada palung lena ketidakrelaan.


TENGGELAM SEMAKIN DALAM.


Fa, Tuban, 20-12-18


 #Cerita_Musim_Dingin

(Ini ceritanya ikut eventnya anak ayam a.k.a Ru. Daaan jeng jeeeng. Aku menang berapa besar gitu lupaaa. Pokok dapat hadiah yeay!!!)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-