Langsung ke konten utama

Apa ini? Ketika baca ulang kok ngakak yaaa...

 KPFI 13 Januari 2019


#Bebas


Belajar Menulis


Aku harus mulai menulis. Iya, harus sekarang. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Baiklah, ternyata menulis itu butuh tempat yang nyaman. Maka, aku akan membereskan peralatan tulis yang berserakan di meja, kemudian merapikan buku-buku di lemari yang mulai berantakan.


Buku sudah rapi, peralatan tulis telah berada pada tempatnya masing-masing. Coba aku hitung dulu. Pena hitam ada dua, pena biru satu, pensil satu, penghapus satu ... ah, iya, belum punya kertas folio. Sebaiknya aku membeli di toko seberang rumah.


Sip! Kudapatkan lima lembar, duduk dengan nyaman, lalu mengulurkan tangan mengambil pena hitam di kotak sebelah kanan. Bersiap menggoreskan tintanya di baris pertama.


"Fafa ... angkatin jemuran, dong! Udah mau hujan nih!"


Ternyata, menulis juga butuh waktu yang tepat. Saat akan turun hujan, bukan waktu yang pas buat menulis. Aku bergegas pergi ke halaman belakang rumah, meninggalkan pena dan kertas yang masih kosong.


Kuambil pakaian satu per satu dari jemuran sambil sesekali memandang langit yang mulai gelap. Memisahkan baju yang sudah kering dan setengah basah. Satu pekerjaan beres.


Kembali menuju meja belajar. Kali ini, pasti bisa menulis dengan tenang. Kulihat kertas masih berada di tempatnya, pena juga demikian. Mendaratkan pantat di kursi pelan-pelan. Menegakkan punggung, memungut pena yang sempat tergeletak.


Memulai usaha yang kedua kali. Sebaiknya diawali dengan huruf F, karena namaku Fafa. Oke, kucoba menorehkannya di lembar bergaris.

 

'Kok, hurufnya nggak jelas?' kugerak-gerakkan pena ke atas dan ke bawah berulang-ulang, mencoba menuliskan lagi. Masih tidak terlihat satu huruf pun yang muncul. Baru aku tahu, tinta di pena ini sudah habis.


Bukankah aku masih punya satu pena bertinta hitam? Baiklah, buang ke tempat sampah, ambil yang baru. Demikianlah aku yang akhirnya bisa menulis huruf F.


Selanjutnya, kusandingkan dengan apa? 


Betul! Harusnya, A. Terciptalah satu karya tulisku dengan kata Fafa. Kalau hanya satu kata, belum bisa disebut sebagai kalimat. Aku berpikir, kata apa lagi yang cocok didampingkan dengan Fafa. Good, Ide cemerlang!


Legaaa. Akhirnya, aku bisa menulis kalimat lengkap dengan SPOK.


'Fafa yang manis dan lucu sedang latihan menulis pada senja hari di ruang belajar'



Salam newbie. Mangats berkarya!


Tulislah apa saja yang ingin kamu tulis, tanpa memikirkan kekhawatiran yang belum pasti terjadi.


Fafa, 13-01-19

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilu di Persimpangan

  Pilu di Persimpangan By : Fafa Jamilea Selalu malam yang kurindu Sejak dua purnama lalu Demikian janjimu Agar kita kembali bersatu Di sini kumampu merebah luka Sampai batas menghirup setetes asa Sambil mencerna walau masih belia Apa dosa yang kureka Gemintang menelisik kelam manja Terseok menuju persimpangan kota Langkah berat penuh tenaga Menjemput asaku dengan segera Hanya pekik histeris yang kuramu Menemui raga serupaku Yang bersimbah merah tercecer sayu Seketika lenguh menyerang kalbu *** Tuban, 31 Oktober 2018 Fa | Pecinta dunia fiksi *Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku ARAH YANG BERBEDA* (Kayaknya ini puisi pertamaku sejak hobi ikut event deh, ah lupaa. Sepertinya iya. Pertamaa, karya pertamaaa dengan nama pena akyu yang imyut lucyu manjahhh Fafaa)

DAPATKAH?

Oleh : Fafa Jamilea Judul : Dapatkah? Jika langit sering menumpahkan hujan lari Bila bulan juga menghalangi Bintang pun tak mampu bekerlip kembali Di mana aku bisa melihat rasimu lagi Yang kutahu, jodoh cerminan diri Seiring waktu, tak semua hal kita sepakati Aku, sibuk menjelajahi Egomu tak kunjung menyadari Tentang rasa yang mulai pasai Tentang hasrat yang perlahan basi Tentang cinta yang kian mendekati mati Bangkitkan dengan sebuah nurani Kamu, dapatkah mengerti? Aku yang ingin dihargai Mampukah sebagai suami Walau satu abad harus kunanti Tuban, 05 Januari 2019 (Puisi ini masuk di NOVEL nya ANNA NOERHASANAH dengan judul CERMIN) Awal mulanya Mbak Anna asal Malang yang imut comel itu mau launching novel, maka beliau mengadakan event puisi bertemakan sesuai isi novel. Aku sebenarnya gak minat ikut, tapi karena aku dekat dengan beliau, aku buat lah. Dan jurinya gak main-main loh. Yaitu Ibuk Nei Mar terkenal senior literasi di KBM. Aku ga nyangka ternyata juri memilih puisiku sebagai pem...

Kotak Kenangan

 Judul : Kotak Kenangan Oleh : Fafa Jamilea Di bangunan gubuk sepetak Tercipta harmoni yang semerbak Saling menjaga kontak Damai walau sesak Pagi beranjak Menuju jalan setapak Hendak bersenang di batang tak beriak Siang menjelang, asyik bermain congklak Bila malam mulai menginjak Bersiap menyalakan lampu minyak Riuh suara katak Menjelma hiburan setiap detak Sekarang, hanya berbekas jejak Memungut kenangan yang berserak  Ditulis pada sebait sajak Masuk ke dalam sebuah kotak Tuban, 28 Desember 2018 (Aaah Fafa rindu masa kecil. Maen-maen ke kampung etan. Naik turun gampeng. Nyebur kali, 'ngundoh' buah nangka sama Pak'e. Nanem pohon jati dan turi.... Uuuh. Semoga Allah berikan nikmat kubur buat Pak'e...)