Langsung ke konten utama

AYAH

 Nama : Fafa Jamilea

Judul : Sesal, Rindu, Harap


Assalamu'alaikum,


Permisi, Ayah. Sesungguhnya, Fafa tak kuasa merampai segenggam puspa cinta untukmu pada seuntai aksara. Berhubung kesempatan hadir dalam sebuah 'event', perkenankanlah anandamu ini turut meramaikan dengan tanpa membuat kedamaianmu terusik.


Hal pertama yang perlu sanda sampaikan ialah berkaitan dengan sesal. Sesal? pada apa yang harus disesali, Ayah? selagi ragamu sudah tak dapat disebut sebagai penghuni dunia. Bukankah seseorang hanya perlu mengikhlaskan apa yang telah menjadi takdirnya, terlebih takdir yang membawa pada kepedihan.


Mungkin, hanya sebuah penyesalan sepele bagi bocah di masa kanak-kanak yang tak pernah bisa mengerti akan pengorbanan seorang ayah. Pengorbanan dalam menghidupi keluarga melalui peluh keringatmu yang mengucur pada setiap detiknya. Tiap tetes yang kau keluarkan dihitung sebagai ibadah, Ayah.


Aku yang tak mengerti akan hal itu. Aku yang tak mengerti akan sebuah tanggung jawab lahir maupun batin yang kaupikul. Tanggung jawab itu masih melekat, bahkan ketika dirimu tak lagi di sini. Akhirnya, aku yang berusaha sekuat tenaga agar pengorbananmu tak sia-sia. Karena diri si dara yang harus memastikan untuk tidak mengalirkan dosa secara terus-menerus hingga saat ini walau telah berbeda dimensi.


Mengenai rindu, biarlah dalam hening senyap berbaur kangen, menyapa di sela waktu khalwat, sambil merenda kenang masa belia yang sempat pudar oleh belasan warsa, tapi tenang saja, kesan krida yang kudapat dari setutur dongeng, tak kunjung memuram. Selagi juwita belum menorehkan setetes gores tinta untuk tiap lembar putih berikutnya, hingga mungkin kutemui belahan jiwa. Atau sebelum itu, raga telah raib dari dunia, mengunjungimu bersama seonggok pertanggungjawaban.


Harapan yang pasti, ialah harapan ananda padamu, semoga husnulkhatimah dan Dia memberimu kelapangan untuk meringankan di hari hisab. Terselip lantunan harapan itu saban tunaikan kewajiban.


Sekian, semoga Allah menjawab semua doa Ayah semasa hidup. Moga Allah jua menjawab segala doa ananda hingga hembusan nafas terakhir.


Wassalamu'alaikum.


Tuban, 07 Januari 2019


(Ini judul aslinya adalah "Ayah". Waktu itu tema harian di KPFI mengusung tentang Ayah.

Dan yaaa sebenarnya coretanku masih panjang tentang ayah. Tapi karena aku ikutkan event di KBM jadi aku pangkas sesuai rules event. Cuma karya aslinya entah ke mana. Intinya ini bercerita tentang kerinduanku tentang ayah kandungku yang telah berpulang sejak Maret 2006. Aah rinduuu. Aku merindukan sosok ayah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-