Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-

Apa itu puisi PATIDUSA?

 Bagi yang belum tahu apa itu PATIDUSA, nih aku copy-in pengertiannya dari google ya... Semoga bisa menambah khazanah wawasan tentang aneka ragam puisi di Indonesia. Khususnya puisi kontemporer :) Sumber: https://www.sastraindonesia.org/2022/11/mengenal-ragam-puisi-baru-patidusa.html?m=1 Puisi Patidusa adalah salah satu jenis puisi baru yang memiliki format 4 kata, 3 kata, 2 kata, dan 1 kata. Format patidusa memiliki keindahan bentuk yang terdiri dari sayap dan kerucut. Kekhasan puisi ini bisa dibaca terbalik dari baris bawah ke atas pada baitnya tanpa mengubah makna. Bentuk standar patidusa; A A A A B B B C C   D E F F G G G    H H H H Puisi Patidusa terdiri minimal dua bait. Ketika seorang penulis merasa kurang cocok pada penggunaan salah satu format, maka bisa mengubah karyanya ke bentuk formasi lain sampai menemukan kecocokan dengan cara membalik formasi baris pada baitnya. Berdasar ketentuan estetika RASA RIMA RUNUT ...

Patidusa - SURGAKU

 #Event_RATANDA SURGAKU Restumu adalah ridha Ilahi Tiap langkahnya teruji Harga mati Pasti Peran rumah tangga dijalani Bagai kerja rodi Tanpa cuti Hari Biarpun penat sering menghampiri Tiada susah hati Letih bertubi Lagi Tutur sejuk menyapa pagi Senyum selalu terpatri Ikhlas memberi Damai Semoga kebaikan senantiasa menyertai Terus-menerus sepanjang hari Berkah menghampiri Sanubari Fafa, Tuban, 23.12.18 Tag PJ Ika Mulyanti Shinta Start Tobbest Pipiet CB Special tag Ayah Yoga Sultan Basa NanMulie Mom Sofia Hidayati Yang udah ngetag Fafa kemaren, Fafa balikin Anna Baee Roman Romascuby Vee Nug Thank you 😉

Patidusa - AYAH

 PATIDUSA keroyokan Keknya bagus nih, digabung . AYAH Sinar fajar merona indah Sepasang kaki melangkah Mencari upah Berkah Curahan keringatnya berujung cita Tiap tetes berpahala Penuh wibawa Perkasa Kulit legam banting tulang Sebagai bukti cinta  Pada tersayang Rela Ika Merdekawati, Fafa, Piki KPFI, 130119 15:56

Patidusa - AKU

 #Patidusa AKU Sedalam samudra kasih sayang Dibesarkan penuh juang Demi kebahagiaan Menyenangkan Aku Si bungsu Tanggungan ayah ibu Cantik hati juga lucu Tak mampu membalas jasa Sekuat tenaga berusaha Hanya dedikasi Pekerti Patuh Pada ilah Hati-hati dalam bertingkah Junjung kehormatan jaga telatah Fafa, Tbn, 060119 19.19

RINDU #Melipatdusku 2

 #Melipatdusku RINDU Rindu yang mendera menimbulkan nestapa Terpatri dalam bingkai pigura Senyum anggun jumawa Vita Arkana Menggoda Terbalut rasa yang menjura Membait larik doa Memeluk jiwa Fafa Meluruh pada fakta Sebait cerita Sofia Dalam doa Yoga MENDAMBA RINDU Menggoda Fafa Sofia Yoga MENDAMBA Fafa Jamilea Sofia Hidayati Yoga Sultan Basa NanMulie keroyokan KPFI 071218 23.37

DILEMA DI UJUNG #Melipatdusku 1

 #pilihanpenting #Melipatdusku_Dibalik DILEMA DI UJUNG Dilema menunggu, sering terdengar membosankan Hingga lama waktu dipertemukan Gejolak resah terpancarkan Kukuh ditahan Penantian Rentang masa mengundang riskan Dahsyat pesona ikatan Juga rentan Godaan Meskipun hanya bualan Suara parau Mengacau Bila bersanding Pilihan PENTING DILEMA DI UJUNG Penantian, Godaan Rentan Mengacau Pilihan PENTING Fafa, Tuban, 18-12-18 [Melipatdusku adalah jenis puisi kontemporer Indonesia berjumlah 5 bait. Dicetuskan oleh Ayah Yoga Sultan Basa Nanmulie seorang penggiat literasi khususnya di bidang puisi. Beliau aktif di KBM (Komunitas Bisa Menulis), dan juga pernah meramaikan grup KPFI (Komunitas Penulis Facebook Indonesia) bersama Fafa Jamilea. Puisi ini berpola 5 (lima), 4 (empat), 3 (tiga), 2 (dua), 1 (satu). Bait pertama: 5, 4, 3, 2, 1 kata Bait kedua: 4, 3, 2, 1 kata Bait ketiga: 3, 2, 1 kata Bait keempat: 2, 1 kata Bait terakhir: 1 kata Yang mana, JUDUL dan setiap ujung bait harus berupa kata ber...

Apa ini? Ketika baca ulang kok ngakak yaaa...

 KPFI 13 Januari 2019 #Bebas Belajar Menulis Aku harus mulai menulis. Iya, harus sekarang. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Baiklah, ternyata menulis itu butuh tempat yang nyaman. Maka, aku akan membereskan peralatan tulis yang berserakan di meja, kemudian merapikan buku-buku di lemari yang mulai berantakan. Buku sudah rapi, peralatan tulis telah berada pada tempatnya masing-masing. Coba aku hitung dulu. Pena hitam ada dua, pena biru satu, pensil satu, penghapus satu ... ah, iya, belum punya kertas folio. Sebaiknya aku membeli di toko seberang rumah. Sip! Kudapatkan lima lembar, duduk dengan nyaman, lalu mengulurkan tangan mengambil pena hitam di kotak sebelah kanan. Bersiap menggoreskan tintanya di baris pertama. "Fafa ... angkatin jemuran, dong! Udah mau hujan nih!" Ternyata, menulis juga butuh waktu yang tepat. Saat akan turun hujan, bukan waktu yang pas buat menulis. Aku bergegas pergi ke halaman belakang rumah, meninggalkan pena dan kertas yang masih kosong. Kuambil pak...

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN
Blog ini hanya untuk seseruan. Aku bukan penulis. Tapi, aku sedang mengumpulkan tulisan-tulisan lamaku. Mengingatkan bahwa aku juga pernah menulis.  Salam Literasiii...!!!

DAPATKAH?

Oleh : Fafa Jamilea Judul : Dapatkah? Jika langit sering menumpahkan hujan lari Bila bulan juga menghalangi Bintang pun tak mampu bekerlip kembali Di mana aku bisa melihat rasimu lagi Yang kutahu, jodoh cerminan diri Seiring waktu, tak semua hal kita sepakati Aku, sibuk menjelajahi Egomu tak kunjung menyadari Tentang rasa yang mulai pasai Tentang hasrat yang perlahan basi Tentang cinta yang kian mendekati mati Bangkitkan dengan sebuah nurani Kamu, dapatkah mengerti? Aku yang ingin dihargai Mampukah sebagai suami Walau satu abad harus kunanti Tuban, 05 Januari 2019 (Puisi ini masuk di NOVEL nya ANNA NOERHASANAH dengan judul CERMIN) Awal mulanya Mbak Anna asal Malang yang imut comel itu mau launching novel, maka beliau mengadakan event puisi bertemakan sesuai isi novel. Aku sebenarnya gak minat ikut, tapi karena aku dekat dengan beliau, aku buat lah. Dan jurinya gak main-main loh. Yaitu Ibuk Nei Mar terkenal senior literasi di KBM. Aku ga nyangka ternyata juri memilih puisiku sebagai pem...

AYAH

 Nama : Fafa Jamilea Judul : Sesal, Rindu, Harap Assalamu'alaikum, Permisi, Ayah. Sesungguhnya, Fafa tak kuasa merampai segenggam puspa cinta untukmu pada seuntai aksara. Berhubung kesempatan hadir dalam sebuah 'event', perkenankanlah anandamu ini turut meramaikan dengan tanpa membuat kedamaianmu terusik. Hal pertama yang perlu sanda sampaikan ialah berkaitan dengan sesal. Sesal? pada apa yang harus disesali, Ayah? selagi ragamu sudah tak dapat disebut sebagai penghuni dunia. Bukankah seseorang hanya perlu mengikhlaskan apa yang telah menjadi takdirnya, terlebih takdir yang membawa pada kepedihan. Mungkin, hanya sebuah penyesalan sepele bagi bocah di masa kanak-kanak yang tak pernah bisa mengerti akan pengorbanan seorang ayah. Pengorbanan dalam menghidupi keluarga melalui peluh keringatmu yang mengucur pada setiap detiknya. Tiap tetes yang kau keluarkan dihitung sebagai ibadah, Ayah. Aku yang tak mengerti akan hal itu. Aku yang tak mengerti akan sebuah tanggung jawab lahir ...

Perwira tak Berpangkat

Judul : Perwira tak Berpangkat Karya : Fafa Jamilea Sejuk mentari pagi terbit perkasa Kau kemas perkakas sumber penghidupan Perlahan bergerak menuju aksa Jalanan kota penuh hunian Hingga terik menembus kulit lelah Teserak bulir keringat mengacau penghiduan Kau jadikan praja nyaman indah Segar bersih tanpa kotoran Ringkih letih jua berkuasa Tak meruntuhkan gigih berlaga Biarpun penat temani angan renta Demi pundi hidupi keluarga Renung bungkam sepucuk kerinduan Berharap menembus hingga seberang medan Tinggalkan sanak atas nama pertanggungan Sang pahlawan di rantau, ayah di peraduan *** Tuban, 16 November 2018  #Event_Puisi_KBM (Aaah ini dia event pertama di KBM yang aku ikuti. Dari sini aku tau ayah Yoga selaku juri, trus makin deket waktu sama-sama gabung grup KPFI. Dekaaaat banget sampe dikira nitizen, kami ayah-anak kandung. Uhuuuy. Entah bagaimana kabar beliau sekarang. Semoga sehat-sehat selalu ya, Ayah!!!)

Pilu di Persimpangan

  Pilu di Persimpangan By : Fafa Jamilea Selalu malam yang kurindu Sejak dua purnama lalu Demikian janjimu Agar kita kembali bersatu Di sini kumampu merebah luka Sampai batas menghirup setetes asa Sambil mencerna walau masih belia Apa dosa yang kureka Gemintang menelisik kelam manja Terseok menuju persimpangan kota Langkah berat penuh tenaga Menjemput asaku dengan segera Hanya pekik histeris yang kuramu Menemui raga serupaku Yang bersimbah merah tercecer sayu Seketika lenguh menyerang kalbu *** Tuban, 31 Oktober 2018 Fa | Pecinta dunia fiksi *Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku ARAH YANG BERBEDA* (Kayaknya ini puisi pertamaku sejak hobi ikut event deh, ah lupaa. Sepertinya iya. Pertamaa, karya pertamaaa dengan nama pena akyu yang imyut lucyu manjahhh Fafaa)
 #tema_bebas Aku mendambakannya, sebagai pelengkap hidupku. Aku masih berjuang membangkitkan rasa yang sempat terseok di kubangan duka penuh lumpur nestapa. Aku mulai meragukan keyakinan yang dulu pernah hinggap memporak-porandakan kepercayaan itu. Inginku Bertemu Berpilu, dan Mengharu Sekali waktu yang itu, aku membisu hanya demi membuatmu memahami makna warna merah jambu yang tersembunyi rapat di lubang asmara penuh kata kama. Fafa, Tuban, 15-12-18 (Ini postingan tema bebas di KPFI). Gak ada judul, asal nuliiis. Magatsss, Fa!)

Rindu Orek Tempe

RINDU #Orek_Tempe Merpati putih sampaikan segenap rindu yang katanya kian berkembang. Kusambut pesan itu dengan binar berpendaran. Binar yang seketika layu jika ragaku nanti telah bangun. Anganku terbujuk godaan, menginginkan bercumbu mesra dengan seseorang. Seorang yang tak kutahu sebabnya hingga aku merasa kehilangan. Kehilangan sajian kenangan orek tempe hingga tak patut bersanding dengan rendang. Ayal, bimbang kucoba menyingkap tirai pemisah kenangan. Dengan hasil yang menjadikanku tenggelam semakin dalam kepada palung lena ketidakrelaan. TENGGELAM SEMAKIN DALAM. Fa, Tuban, 20-12-18  #Cerita_Musim_Dingin (Ini ceritanya ikut eventnya anak ayam a.k.a Ru. Daaan jeng jeeeng. Aku menang berapa besar gitu lupaaa. Pokok dapat hadiah yeay!!!)

Lelakiku

Lelakiku Sewaktu senja memunculkan jingga Berteman debur ombak kehangatan Kupandang insan berparas rupawan Melambai menembus palung sukma Janat sangat tampang seorang nan menawan terpahat sempurna cipta Sang Kuasa Meruntuhkan kokoh benteng pertahanan Hingga remuk tercecer entah kemana Si rupa tampan sebening pualam Tiuplah jejak gores sayatan masa lalu Kita ukir pengharapan baru mengangkasa syahdu Menerobos ribuan kenangan kelam Bersama derap langkah mengiringi Ritme perjalanan asmara bermacam aroma Melati dan kenanga bersanding setia Memeluk hangat para jiwa yang sepi Luka lama akan segera lenyap Kauusap dengan kecupan lembut Sebagai kenangan tiada menguap Juga uluran tangan yang menyambut 25 Desember 2018 *Event bukunya RINI DEVIANA* Tema : #Lelaki_Penyembuh_Luka (Kayaknya ini gak masuk nominasi apalagi antologi deh. But no matter... god job, Fafa!!! Oh yaaa... Dari event ini aku baru tau ternyata salah satu jurinya adalah Elang. Dia tetanggaku. ...

Kepedihan yang Mendalam

Judul : Kepedihan yang Mendalam Karya : Fafa Jamilea Gerimis rebas mengenai putik-putik kenangan Membasuh pangkal rindu dengan segenap sayatan Langkah tertimpang-timpang oleh semu rayuan Angan mengangkasa edan Kisah yang menyelubungi atmosfer Terhempas angin Desember Kokok ayam pagi pun terdengar seperti rintihan  Fajar kemerahan menyapa berbalut kepedihan  Lelah menuturkan segenap pasrah Harapan dalam bayangan, biarlah Asa yang tak mampu dilanjutkan Kekasih menghilang di ujung penantian Tabah memeluk bintang dan rembulan Tabah di hari pesakitan Jiwa yang gersang layu tak bernyawa Dihantam kerinduan sekian warsa Tuban, 25 Desember 2018 (Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku SEREMONIA KEKASIH) #Event_SeremoniKekasih_Meysha_Zahida

IKHLAS

 IKHLAS Kepada kodok yang sedang bernyanyi bersahutan ikut meramaikan pekat petang dibalut gerimis petir. Kepada dahan melinjo yang bahagia bergoyang mengikuti arah paduan metrum angin. Kepada primadona malam yang sedang enggan menampakkan seraut rupa kerlipnya. Kepada jalanan kampung bercampur lumpur terpampang syahdu dengan lubang kiri dan kanan sejauh pengamatan. Perlu kuwartakan kepada kalian, sejak saat ini hingga dua purnama mendatang, bakti ikrar terucap secara lahir juga batin, mengabdi bersimpuh untukmu. Sungguh hiasan kelabu yang menggoda insan bersembunyi dalam lembap gulita berteman rindu. Apalah arti kuota, di pedesaan terpencil tanpa signal. Hempaskan gadget, ikhlas bertaruh tenaga demi apa? *Fafa, Tuban, 17-12-18* (tulisan ini terbit karena aku terkenang suasana Bjn pada tahun 2016. Ketika itu aku sedang KKN di Desa Nglajang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur :)

KARMIN

 Judul : KARMIN Oleh : Fafa Jamilea Tapak demi setapak beradu jalan berbatuan  Tanpa alas membelah rerimbunan Tiba di ujung hutan perbatasan Bersobok langkah dengan teman sepermainan Demi apa sepagian? Temu Kunci di awal penghujan "Sebelum ramban ilmu, mari ramban sayuran." Bergerombol mencabut bakal hidangan Bersenda-senda tentang cita-cita kawan Dari polwan hingga pemadam kebakaran Semua disebutkan Karmin diam, suara tertahan Ada apakah gerangan? Walau sekadar bualan, tak mampu dilontarkan Selang kelaluan Misteri sahabat sepanjang zaman Tuban, 13 Februari 2019 Catatan: Sayur Temu Kunci memiliki nama latin Boesenbergia Rotunda merupakan jenis rempah-rempah yang banyak digunakan sebagai bumbu pada sajian kuliner di Asia Tenggara. Kalau di Indonesia, biasa tumbuh di awal musim penghujan di kawasan hutan. Puisi ini masuk antologi buku Rinai Hujan sebuku dengan Sapardi Djoko Damono

Kotak Kenangan

 Judul : Kotak Kenangan Oleh : Fafa Jamilea Di bangunan gubuk sepetak Tercipta harmoni yang semerbak Saling menjaga kontak Damai walau sesak Pagi beranjak Menuju jalan setapak Hendak bersenang di batang tak beriak Siang menjelang, asyik bermain congklak Bila malam mulai menginjak Bersiap menyalakan lampu minyak Riuh suara katak Menjelma hiburan setiap detak Sekarang, hanya berbekas jejak Memungut kenangan yang berserak  Ditulis pada sebait sajak Masuk ke dalam sebuah kotak Tuban, 28 Desember 2018 (Aaah Fafa rindu masa kecil. Maen-maen ke kampung etan. Naik turun gampeng. Nyebur kali, 'ngundoh' buah nangka sama Pak'e. Nanem pohon jati dan turi.... Uuuh. Semoga Allah berikan nikmat kubur buat Pak'e...)

PULANG; Akrostik

 #Akrostik depan belakang PULANG Pada jejak yang tertuang dalam lembaran usanG Ukirlah segala gaduh tentang gundah tak terampunkaN Luapkan bait-bait hasrat yang berbaris menjelma sajak dilemA Agar harapan membentuk harmoni selaras bakti tanpa sesaL Niscaya kedamaian menyusup lembut menuju sanubari rindU Gamang bilamana tak mampu berserah pada setiap gelaP Fafa Jombang senja, 07-12-18 (Akrostik adalah puisi atau syair di mana huruf awal (atau bisa juga huruf akhir) dari setiap baris, jika dibaca secara vertikal, membentuk kata atau kalimat tertentu. Dengan kata lain, puisi akrostik menggunakan huruf-huruf di awal atau akhir baris untuk menyusun pesan atau kata yang tersembunyi.)

Akrostik SAHABAT

 #SAHABAT #Akrostik S enantiasa berkelakar walau penaT A ku dan kamu pastinyA H ubungan jauh karena nasiB A sal tak sampai melupA B iarkan rindu semakin membuncaH A kan ada waktu berjumpA T amatkan riwayat hingga tuntaS Jombang, 29-11-18 19.19 Akrostik depan belakang, empat kata ala Fafa Dari Fa untuk La (La adalah sahabat Fafa sejak MTs. Kami pernah satu kelas hanya di kelas 3 saja. Gak pernah sebangku. Tapi entah kenapa setelah lulus Aliyah, kami menjadi dekat. Mungkin karena sefrekuensi. Dipertemukan dalam frekuensi 'RWT' ruwet. Persahabatan ini terjalin sampai sekarang, nanti, dan nanti akan tetap menjadi sahabat. Kuliah di kota yang sama yaitu Surabaya. Beda kampus. Gak pernah se-kos, tapi sering maen dan nginep2an di kos. Wish you get a good living... 😚)