Langsung ke konten utama

Perwira tak Berpangkat



Judul : Perwira tak Berpangkat

Karya : Fafa Jamilea


Sejuk mentari pagi terbit perkasa

Kau kemas perkakas sumber penghidupan

Perlahan bergerak menuju aksa

Jalanan kota penuh hunian


Hingga terik menembus kulit lelah

Teserak bulir keringat mengacau penghiduan

Kau jadikan praja nyaman indah

Segar bersih tanpa kotoran


Ringkih letih jua berkuasa

Tak meruntuhkan gigih berlaga

Biarpun penat temani angan renta

Demi pundi hidupi keluarga


Renung bungkam sepucuk kerinduan

Berharap menembus hingga seberang medan

Tinggalkan sanak atas nama pertanggungan

Sang pahlawan di rantau, ayah di peraduan


***


Tuban, 16 November 2018


 #Event_Puisi_KBM

(Aaah ini dia event pertama di KBM yang aku ikuti. Dari sini aku tau ayah Yoga selaku juri, trus makin deket waktu sama-sama gabung grup KPFI. Dekaaaat banget sampe dikira nitizen, kami ayah-anak kandung. Uhuuuy.

Entah bagaimana kabar beliau sekarang. Semoga sehat-sehat selalu ya, Ayah!!!)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-