Langsung ke konten utama

IKHLAS

 IKHLAS


Kepada kodok yang sedang bernyanyi bersahutan ikut meramaikan pekat petang dibalut gerimis petir.


Kepada dahan melinjo yang bahagia bergoyang mengikuti arah paduan metrum angin.


Kepada primadona malam yang sedang enggan menampakkan seraut rupa kerlipnya.


Kepada jalanan kampung bercampur lumpur terpampang syahdu dengan lubang kiri dan kanan sejauh pengamatan.


Perlu kuwartakan kepada kalian, sejak saat ini hingga dua purnama mendatang, bakti ikrar terucap secara lahir juga batin, mengabdi bersimpuh untukmu.


Sungguh hiasan kelabu yang menggoda insan bersembunyi dalam lembap gulita berteman rindu.


Apalah arti kuota, di pedesaan terpencil tanpa signal. Hempaskan gadget, ikhlas bertaruh tenaga demi apa?


*Fafa, Tuban, 17-12-18*


(tulisan ini terbit karena aku terkenang suasana Bjn pada tahun 2016. Ketika itu aku sedang KKN di Desa Nglajang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-