Langsung ke konten utama

Kepedihan yang Mendalam


Judul : Kepedihan yang Mendalam

Karya : Fafa Jamilea


Gerimis rebas mengenai putik-putik kenangan

Membasuh pangkal rindu dengan segenap sayatan

Langkah tertimpang-timpang oleh semu rayuan

Angan mengangkasa edan


Kisah yang menyelubungi atmosfer

Terhempas angin Desember

Kokok ayam pagi pun terdengar seperti rintihan 

Fajar kemerahan menyapa berbalut kepedihan 


Lelah menuturkan segenap pasrah

Harapan dalam bayangan, biarlah

Asa yang tak mampu dilanjutkan

Kekasih menghilang di ujung penantian


Tabah memeluk bintang dan rembulan

Tabah di hari pesakitan

Jiwa yang gersang layu tak bernyawa

Dihantam kerinduan sekian warsa


Tuban, 25 Desember 2018


(Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku SEREMONIA KEKASIH)

#Event_SeremoniKekasih_Meysha_Zahida

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-