Langsung ke konten utama

PULANG; Akrostik


 #Akrostik depan belakang

PULANG


Pada jejak yang tertuang dalam lembaran usanG

Ukirlah segala gaduh tentang gundah tak terampunkaN

Luapkan bait-bait hasrat yang berbaris menjelma sajak dilemA

Agar harapan membentuk harmoni selaras bakti tanpa sesaL

Niscaya kedamaian menyusup lembut menuju sanubari rindU

Gamang bilamana tak mampu berserah pada setiap gelaP


Fafa

Jombang senja, 07-12-18


(Akrostik adalah puisi atau syair di mana huruf awal (atau bisa juga huruf akhir) dari setiap baris, jika dibaca secara vertikal, membentuk kata atau kalimat tertentu. Dengan kata lain, puisi akrostik menggunakan huruf-huruf di awal atau akhir baris untuk menyusun pesan atau kata yang tersembunyi.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-