Langsung ke konten utama

Kotak Kenangan

 Judul : Kotak Kenangan

Oleh : Fafa Jamilea


Di bangunan gubuk sepetak

Tercipta harmoni yang semerbak

Saling menjaga kontak

Damai walau sesak


Pagi beranjak

Menuju jalan setapak

Hendak bersenang di batang tak beriak

Siang menjelang, asyik bermain congklak


Bila malam mulai menginjak

Bersiap menyalakan lampu minyak

Riuh suara katak

Menjelma hiburan setiap detak


Sekarang, hanya berbekas jejak

Memungut kenangan yang berserak 

Ditulis pada sebait sajak

Masuk ke dalam sebuah kotak


Tuban, 28 Desember 2018



(Aaah Fafa rindu masa kecil. Maen-maen ke kampung etan. Naik turun gampeng. Nyebur kali, 'ngundoh' buah nangka sama Pak'e. Nanem pohon jati dan turi.... Uuuh. Semoga Allah berikan nikmat kubur buat Pak'e...)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-