Langsung ke konten utama

Luka Sahabat

Atas nama hujan sanggup pecahkan kemesraan kita
Sebelum air hujan meresap sampai ke dasar bumi,
Aku ingin menanyakan apa arti hidupmu untuk dirimu sendiri
Bukan untukku bukan untuknya
Saat air hujan menjamah pangkal batin yang masih dikecewakan,
Aku ingin bertanya bisakah jika waktu itu kita anggap jarum jam sedang berhenti
Sehingga kita tak pernah melewatinya

Jika boleh aku meminjam ucapan Ada Band

Sungguh tak ada yang salah hanya aku manusia bodoh

Harus bagaimana lagi agar penyesalanku ini kau anggap berarti

Ungkap semua yang masih kaupendam di hatimu
Inilah aku di depan mukamu
Tak ada secuil niat pun tuk menyakitimu

'Simpan lara dalam hati', saat kau berkata demikian

Kalimat itu yang sangat ingin kupercaya darimu, tentangmu
Tapi apa nyata, kau tak sungguh-sungguh menyimpannya
Aku harus bagaimana lagi

Hentikan...hentikan... jika kau memang benar-benar memaafkanku

Teruskan jika kau memang ingin kita harus berpisah

Sampai mana dan sampai kapan kau mampu melakukan kepura-puraan ini

Ini aku di depanmu
Bicara padaku dengan lantang

Tak perlu kau tampakkan raut bahagia dengan senyum palsumu
Aku yang sangat mengerti makna sumbing bibirmu bahwa
'kau masih sakit', 'kau tak ingin kita tercerai'
Tapi aku ingin berkata;
'Bisakah kita berjalan di atas jalan masing-masing?'

Jika kau masih berjalan seperti itu

Aku pikir kau juga tahu betapa sering pula aku disakiti olehmu
Kau tak kan pernah tahu sampai kapanpun
Dan aku tak mungkin tega memberitahumu

Masihkah mengira kau satu-satunya yang tersakiti di dunia kita?

Anggap saja kau memang satu-satunya
Agar aku tak banyak mengungkap
1...2...3... masih ada yang keempat


Jika memang ini belum selesai,
Selesaikanlah sekarang juga, Di depanku
Kau tahu?
Berapa berat aku menanggungnya
Dan sangat sukses kau buatku memiliki beban mental
Akan keraguan arti persahabatan


Oleh: Indah Fatin S.
Surabaya, 2016

Ini aku tulis ketika persahabatan kami hampir terberai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-