Langsung ke konten utama

Rindu Ceriamu

Sudah kali kedua ini kau kehilangan keceriaan
Berarti kau sudah menginjak puber atau menuju usia dewasa ?
Awal pertama memang kami sempat mencurigai rumah keduamu
Bahkan saat ini pun aku masih mengira bahwa itu karena masa lalumu
Lalu aku berusaha menepis sekuat tenaga agar tak menyalahkan siapapun, apalagi orang yang kausegani

Ternyata bukan (mudah-mudahan saja bukan), bukan karena lingkunganmu yang terlalu asyik
Sedangkan kau tak suka asyik sama sekali
Tapi sungguh kau yang berbeda

Aku yang sangat mengetahui kalau kau memang berbeda
Aku yang sangat memahami diammu
Aku yang sangat mengasihimu kala kaujenuh
Aku yang sangat kaurindukan ketika kita lama tak bertemu
Aku yang sangat sering meluangkan waktu untuk mendengar cerita lamamu, entah itu fakta atau dongeng aku hanya mendengar
Aku yang masih ingat dongengmu di masa lampau padahal sudah bertahan berapa tahun sejak kau mulai berontak
Dan aku yang sangat pura-pura belum pernah mendengar suatu hal, padahal sudah berapa kali kau menceritakan itu
Aku yang sangat bahagia ketika kau tersenyum, karena aku tau kau tidak suka senyuman

Kau memang sungguh berbeda
Kau diam tak berarti marah, kau hanya bosan
Kadang kaugiat kadang juga tak melakukan apa-apa
Tapi lebih banyak diam karena memang kau tak punya kewajiban

Kau menuntut agar semua orang memahamimu
Nyatanya sering, kau dihiraukan tapi kau yang ingin dibiarkan
Sudahlah...selamanya kita tak akan pernah memahami maksudmu
Hingga kau semprotkan angan-anganmu yang justru merepotkan, seperti sekarang ini dan 3 tahun silam..

Harapanku hanya inginkan kau cepat pulih tapi jangan seperti dulu yang hanya berdiam diri. setelah pulih, harusnya kau punya tujuan hidup...

Hanya Rindukan Ceriamu seperti kita masih kanak-kanak...


Oleh : Indah Fatin

(Ini cerita tentang adekku yang specialll.... I love him so much)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilu di Persimpangan

  Pilu di Persimpangan By : Fafa Jamilea Selalu malam yang kurindu Sejak dua purnama lalu Demikian janjimu Agar kita kembali bersatu Di sini kumampu merebah luka Sampai batas menghirup setetes asa Sambil mencerna walau masih belia Apa dosa yang kureka Gemintang menelisik kelam manja Terseok menuju persimpangan kota Langkah berat penuh tenaga Menjemput asaku dengan segera Hanya pekik histeris yang kuramu Menemui raga serupaku Yang bersimbah merah tercecer sayu Seketika lenguh menyerang kalbu *** Tuban, 31 Oktober 2018 Fa | Pecinta dunia fiksi *Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku ARAH YANG BERBEDA* (Kayaknya ini puisi pertamaku sejak hobi ikut event deh, ah lupaa. Sepertinya iya. Pertamaa, karya pertamaaa dengan nama pena akyu yang imyut lucyu manjahhh Fafaa)

DAPATKAH?

Oleh : Fafa Jamilea Judul : Dapatkah? Jika langit sering menumpahkan hujan lari Bila bulan juga menghalangi Bintang pun tak mampu bekerlip kembali Di mana aku bisa melihat rasimu lagi Yang kutahu, jodoh cerminan diri Seiring waktu, tak semua hal kita sepakati Aku, sibuk menjelajahi Egomu tak kunjung menyadari Tentang rasa yang mulai pasai Tentang hasrat yang perlahan basi Tentang cinta yang kian mendekati mati Bangkitkan dengan sebuah nurani Kamu, dapatkah mengerti? Aku yang ingin dihargai Mampukah sebagai suami Walau satu abad harus kunanti Tuban, 05 Januari 2019 (Puisi ini masuk di NOVEL nya ANNA NOERHASANAH dengan judul CERMIN) Awal mulanya Mbak Anna asal Malang yang imut comel itu mau launching novel, maka beliau mengadakan event puisi bertemakan sesuai isi novel. Aku sebenarnya gak minat ikut, tapi karena aku dekat dengan beliau, aku buat lah. Dan jurinya gak main-main loh. Yaitu Ibuk Nei Mar terkenal senior literasi di KBM. Aku ga nyangka ternyata juri memilih puisiku sebagai pem...

Kotak Kenangan

 Judul : Kotak Kenangan Oleh : Fafa Jamilea Di bangunan gubuk sepetak Tercipta harmoni yang semerbak Saling menjaga kontak Damai walau sesak Pagi beranjak Menuju jalan setapak Hendak bersenang di batang tak beriak Siang menjelang, asyik bermain congklak Bila malam mulai menginjak Bersiap menyalakan lampu minyak Riuh suara katak Menjelma hiburan setiap detak Sekarang, hanya berbekas jejak Memungut kenangan yang berserak  Ditulis pada sebait sajak Masuk ke dalam sebuah kotak Tuban, 28 Desember 2018 (Aaah Fafa rindu masa kecil. Maen-maen ke kampung etan. Naik turun gampeng. Nyebur kali, 'ngundoh' buah nangka sama Pak'e. Nanem pohon jati dan turi.... Uuuh. Semoga Allah berikan nikmat kubur buat Pak'e...)