Langsung ke konten utama

Tarik Ulur Kehidupan

Usaha mendekat memang tidak landai
Sekuat tenaga memperolok kepatuhan batin
Batin bergejolak, berputar tak keruan
Berkat giatnya aku bersimpuh dengan kasihmu, engkau padamkan

Kuhadir sewaktu-waktu
Kau tak pernah enggan menjemput
Dikala bala gemuruh gundah datang tak terduga

Kini aku adukan resah hanya sekejap
Berdiam damba kedamaian batin
Gundah mendarat lalu menjauh
Gundah menjauh mendarat lagi
Izin merela hatur pinta
Pinta berwujud waktu menentu
  
Kala wujud tiba jangan lupakan engkau
Harap engkau jangan tenggelam
Jangan aku lupakan sesaat
Jangan berpaling bila penuh
Hanya kata jangan untuk diriku

Lama masa aku berpikir
Hampa rasa jika ditakdir
Berlama beriak perlahan datar
Bertahan kerak puasan nanar

Bergerak dekat semakin landai
Tunjuk nyata sampailah aku
Hindari tunda pasti guna
Tertata hati pada ujungnya

By: Indah Fatin S.
Surabaya, 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Embun Rindu

Judul : Aroma Embun Rindu; Menyambut Janji Di waktu sejuk pertemukan rasa Kau tampak anggun berpoles warna Embun pagi bergelantung manja Pandang terpaut hingga leka Lukis paras menawan membelai netra Memancing jenak luapan asmara Hasrat melambung memecah sanga Ku bawa rengkuh laksana surga Ranum kuncup serta buahnya Hirup sedalam raga belanga Kasih, sipu malu tampak berkuasa Lengkungan senyum berpendar cahaya Semerbak harum lili casablanca Rapatkan hangat tak terencana Hingga ufuk merah membentang cakrawala Janji bertuah sehidup selaksa *** -Fafa- Tuban, 8 November 2018 Masuk ANTOLOGI PUISI dengan judul buku EKSTENSI EMBUN

Petrichor

 -Petrichor- Lenyapmu memunculkan aroma baru Seperti aroma hujan di bulan lalu Hilangmu yang tak berbekas Mendadak aku dibuat kebas Sedangkan kuncup pun tak jadi bermekaran Dia mulai memahami tuannya Demi menantimu kembali Dia pandai menyalahi takdir Seperti kamu Bulan ini juga masih sama Aku hanya berdua dengan petrichor senja -Fafa- Tuban, 01 Februari 2019, 24.00

Akrostik depan ajjah

Apakah suatu saat kita akan saling merasa memiliki Sayang, kita tak diperkenankan menerka takdir yang terjadi kelak. Yang kutahu, romansa ini benar-benar nyata. Hanya menjalani kebahagian yang singgah sejenak di depan mata. Adakah kamu berpikir demikian? Rasa yang sungguh membuatku dilema, kadang rindu tapi juga ragu. "Ini hanya sementara," yakinku seperti biasa, jadi aku akan membuatmu membenciku. Enggan membuat hati menetap dalam satu tempat, aku menyerah. -Fafa, 2020-